Belanda, Balik Lagi Dong! Capek Dijajah Pejabat Sendiri


Demokrasi katanya pesta rakyat. Nyatanya, yang pesta pejabat, rakyat cuma jadi penonton. Janji-janji manis bertebaran setiap agenda pemilu, tapi yang kenyang tetap yang di atas. Tulisan ini muncul bukan karena kita kangen dijajah, tapi karena kita lelah dijajah pejabat sendiri yang sepertinya lebih lihai menguras negeri ini.

Setiap 17 Agustus, bendera merah putih berkibar, pidato nasionalisme berkumandang, dan lomba makan kerupuk digelar di gang-gang sempit rumah warga. Tapi di balik euforia itu, pertanyaan besar muncul. Apakah kita benar-benar merdeka? Atau cuma ganti penjajah dari asing ke pejabat lokal yang doyan nyolong duit negara?

Dulu, Belanda menjajah kita dengan tanam paksa dan kerja rodi. Sekarang? Pajak selangit, harga kebutuhan pokok melambung, sementara gaji segitu-gitu aja. Pendidikan dan kesehatan yang katanya hak dasar rakyat, malah jadi ladang bisnis. Hukum pun tebang pilih. Tajam buat yang kaum kecil, tumpul kalau yang kena kaum elite.

Di zaman VOC, hasil bumi kita diangkut ke Eropa buat memperkaya Belanda. Sekarang? Duit negara disedot buat proyek-proyek yang lebih menguntungkan kantong pejabat ketimbang rakyat. Katanya pembangunan, tapi yang untung malah para penguasa dan kroni-kroninya, hehe.

Dulu, rakyat tahu siapa musuhnya, ya pemerintah kolonial. Sekarang? Musuhnya lebih sulit dikenali, karena mereka menyamar jadi "wakil rakyat." Padahal, setelah duduk di kursi empuk, yang mereka wakili justru kepentingan segelintir elite.

Lihat aja proyek-proyek infrastruktur yang lebih pro investor daripada pro rakyat. Kebijakan yang lebih banyak menguntungkan golongan tertentu daripada masyarakat luas. Pemilu cuma jadi ajang formalitas, karena siapapun yang menang, rakyat tetap susah.

Ironisnya, di Belanda yang dulu menjajah kita, rakyatnya malah lebih sejahtera. Sekolah gratis, layanan kesehatan terjamin, korupsi bisa bikin pejabat langsung lengser. Sementara di sini, yang ketahuan korupsi masih bisa senyum di TV, entah malah dapat jabatan baru.

Sekali lagi, tulisan ini bukan permintaan serius, tapi bentuk akumulasi kegeraman dari rakyat yang sudah muak sama kondisi sekarang. Karena kalau dipikir-pikir, kemerdekaan kita ini kayaknya cuma berlaku di atas kertas, tapi di kehidupan nyata masih banyak yang merasa terjajah.

Tapi solusinya jelas bukan balik ke zaman kolonial. Kita enggak butuh penjajah baru, kita butuh pejabat yang sadar diri kalau mereka seharusnya kerja buat rakyat, bukan buat rekening pribadi.

Merdeka itu bukan cuma tentang bebas dari bangsa asing. Merdeka juga berarti bebas dari penindasan, termasuk dari pejabat-pejabat serakah. Kalau kita diam aja, ya bakal terus dikadalin.

Sudah saatnya rakyat lebih kritis, lebih berani menuntut keadilan, dan enggak gampang dibohongi janji-janji pemilu. Demokrasi itu bukan cuma nyoblos lima tahun sekali, tapi perjuangan terus-menerus buat memastikan kekuasaan tetap di tangan rakyat, bukan di genggaman oligarki.

Jadi, enggak usah berharap Belanda balik lagi. Yang harus balik itu kesadaran kita sebagai rakyat, bahwa negara ini bukan milik segelintir orang, tapi milik kita semua. Dan kalau kita enggak bertindak, kita akan terus dijajah oleh bangsa sendiri.

Sebagai penutup, mau sampai kapanpun rakyat derajatnya lebih di atas daripada pemerintah.

Penulis: Bung Yuda

Lebih baru Lebih lama