Dulu, perang sarung hanyalah bagian dari keseruan bulan Ramadhan. Remaja berkumpul, bermain, dan tertawa tanpa ada rasa takut. Tak ada yang terluka, apalagi kehilangan nyawa. Namun, zaman berubah. Tradisi yang dulu penuh canda kini berkembang menjadi ajang tawuran yang berujung kekerasan.
Coba telusuri kata “perang sarung” di internet. Bukannya nostalgia tentang permainan masa kecil, justru deretan berita tragis yang muncul. Insiden demi insiden bermunculan, dari aksi brutal hingga peristiwa yang merenggut nyawa. Ramadhan yang seharusnya menjadi momen damai justru diwarnai kekerasan yang tak masuk akal.
Salah satu kasus tragis terjadi di Kuningan, Jawa Barat. Muhammad Hilman Herdian (14), seorang remaja asal Cirendeng, ditemukan tak bernyawa di kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Caringin pada 6 Maret 2025. Menurut keterangan Polres Kuningan, sebelum ditemukan tewas, Hilman sempat terlibat perang sarung bersama teman-temannya. Namun, ketika kelompoknya kalah dan melarikan diri, Hilman tertinggal dan diduga menjadi korban pengeroyokan lawan.
Kasus Hilman hanyalah satu dari banyaknya insiden serupa yang terjadi di berbagai daerah. Hampir setiap hari, berita tentang perang sarung yang berujung kekerasan muncul di berbagai media. Fenomena ini berkaitan erat dengan energi besar yang dimiliki generasi muda, khususnya Gen Z. Tanpa wadah yang jelas, mereka cenderung mencari cara sendiri untuk melampiaskannya. Sayangnya, banyak yang akhirnya terjerumus ke dalam perilaku destruktif. Namun, sekadar menyalahkan anak muda bukanlah solusi.
Menanggulangi fenomena ini bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak muda. Jika mereka merasa dihargai dan memiliki tempat untuk berekspresi, kemungkinan besar mereka tidak akan mencari pelampiasan dalam bentuk kekerasan. Sudah saatnya semua pihak bergerak bersama agar Ramadhan kembali menjadi bulan yang damai, tanpa diwarnai kekerasan akibat perang sarung yang kehilangan makna.